Label

Selasa, 31 Oktober 2017

Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2017

Halo, mungkin sebagian orang belum tau apa sih Bulan Kesehatan Gigi Nasional itu?
Jadi BKGN ini rutin diadakan setiap tahunnya. Dalam bulan September-November, biasanya Pepsodent bekerjasama dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Fakultas Kesehatan Gigi (FKG) seluruh Indonesia mengadakan acara berupa sosialisasi sampai periksa gigi gratis. Pssstt.. Bahkan cabut gigi, tambal gigi, dan scaling alias membersihkan karang gigipun gratis! Siapa sih yang gak suka hal-hal gratis? Saya sih suka banget.. Hehehe..

Nah, bagi yang mau mengikuti kegiatan ini, bisa cek jadwalnya dibawah yak.
Caranya gimana? Pokoknya tinggal datang aja sesuai jadwal, PAGI-PAGI soalnya pasti ramai antrean.
Jangan lupa rawat gigi kita, makan makanan yang sehat & bergizi, supaya kesehatan gigi terjaga dan kuat sampai tua.

Btw, saya suka lupa loh sama moment semacam ini padahal tiap bulan bolak-balik FKG buat kontrol. Tapi tetiba dapat SMS dari pihak RSGM Maranatha Bandung tentang kabar ini. Seketika itu pula saya bertekad (ceileh) untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada semua orang. Bagi yang mau cek disana bisa datang tgl 6-8 Nov dan kontak  022-2005934.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat ya..

Salam..



Selasa, 03 Oktober 2017

Kisahku: Yoga & Sindrom Hipermobilitas

Halo, untuk yang baca posting saya yang lain mungkin tahu saya suka yoga. Nah, suka merasa tertantang atau terheran-heran nggak sih sama pose-pose yang memperlihatkan kelenturan badan? Pernahkah bertanya pada diri sendiri, "Kok bisa si A-atau si B lentur banget sedangkan saya tidak??" ettt.. jangan berkecil hati bagi teman-teman yang merasa kurang lentur. Faktanya justru tubuh teman-teman ini yang lebih normal.

Badan yang lentur, apalagi lenturnya gak kira-kira ternyata merupakan sebuah sindrom hipermobilitas atau Hypermobility Joint Syndrome. Sindrom genetis ini konon dikarenakan lemahnya jaringan ikat pada sendi, sehingga sendinya ini ibarat keran air yang longgar. Harusnya sudah berhenti di titik 90, ini udah lewat dari itu masih aja belum berhenti. Biasanya sindrom ini ditangani oleh dokter ortopedi, alias ahli tulang.



Buat teman-teman yang badannya kaku banget mungkin bisa lebih fleksibel dengan berlatih yoga, namun apabila belum bisa, tak mengapa. Jangan merasa berkecil hati. Justru orang yang fleksibel ini lebih rentan cedera apabila tidak dibarengi dengan latihan kekuatan. Biarkan saja orang lain yang fleksibel itu. Yang penting gerakannya benar, maka manfaat yang didapat adalah sama.

Saya membaca-baca artikel tentang sindrom hipermobilitas ini dari berbagai sumber. Dan rasanya sebagai pengidap (ealah), saya merasa harus berbagi cerita beberapa kejadian maupun apa yang saya rasakan selama ini dibalik pose-pose ekstem yang bisa saya praktekan. Dibalik kekaguman teman-teman yang melihat "keberhasilan" saya dalam suatu pose (padahal bukan sebuah kompetisi). Dibalik pertanyaan "Gak ngilu badan lu bisa kek gitu??".

ini saya. ciyus!
Awalnya saya pikir fleksibilitas yang saya miliki saya dapat dari latihan menari pas kecil (iya gue bocah tomboy yang belajar nari. :p ) namun kesini-kesini saya mulai menyadari kayanya saya nggak latihan apapun tetap lentur. Ya, saya terlahir lentur. Split ok, kayang oke, pose aneh-aneh selama itu judulnya fleksibel, tancappp.. Tapi apa yang saya rasa?? Saya lebih cepat lelah & lemah ototnya, makanya saya latihan kekuatan juga. Ketika belum sadar ternyata kefleksibelan ini punya efek negatif di tubuh saya, saya cuek-cuek aja. Dan cenderung nggak sadar ternyata beberapa keluhan saya ternyata disinyalir berasal dari si hipermobiliti ini.

Dulu saya lari disebut kaya bebek. Saya bingung kenapa.. tapi akhirnya sadar, emang kaya bebek (duluuuu), sebab setiap melangkah saya ternyata overstretch.

Dulu tiap kali jalan, selalu ada irama "bletak-bletuk" mengiringi. Karena otot saya lemah dan sendi lututnya ndak stabil. Sekarang saya kalau jalan maupun lari harus selalu aware, gak boleh pake cara biasa, harus selalu ototnya aktif biar ndak overstretch. Bahkan berdiripun harus selalu kaya ada yang narik badannya ke atas. Kalau nggak gitu, kaki saya bakal ngebentuk lengkungan yang melawan arah sudut lutut. Kalau lutut normal bending ke depan, lutut saya bisa bending ke belakang.

Suatu ketika pas loncat tiba-tiba lutut saya geser sendiri dan kekunci. Alhasil begitu mendarat dengan sangat tidak mulus, lutut saya bunyi dengan kencang. Sayapun ikut menangis kencang karena sakit yang luar biasa. I swear! Lebih sakit daripada dibanting maupun ditonjok sampe biru (yes, saya pernah merasakan)

TMJD (Temporomandibular Joint Disorder) sayapun bisa jadi didukung oleh kondisi rahang saya yang kurang pakem remnya. Bahkan suatu waktu sampai si sendinya nyangkut, susah digerakin lagi. Soal TMJ bisa baca disini

Pas lagi enak tidur, saya pindah posisi dan tetiba ada sesuatu di punggung bawah saya seperti lepas, alhasil saya mendadak tidak bisa jalan saat itu juga.

Konon para pengidap hipermobilitas itu juga kebanyakan adalah pengidap autoimun. Yes, itu saya. Ringkih banget. Gak boleh kena debu, gak bisa cuaca ekstrem..

Konon para pengidap hipermobilitas itu juga bertekanan darah rendah dan kaki-tangannya cenderung sering dingin. Yes banget. Saya demikian sampai-sampai emak sering ketakutan apalagi pas saya kecil, takut saya "gak ada" karena dingin.

Dan saya sering banget nyeri badan. Hal ini bisa jadi dikarenakan oleh sendi yang maksa narik otot sampai batas maksimal.

Saking lenturnya ini sendi, suatu waktu kami latihan kuncian pas taekwondo. Saya jadi yang dikunci. Teman saya terlalu kencang nahan/narik tangan saya. Alhasil ligamen saya sobek dan cairan ligamen di tangan bocor. Saya jadi punya kista ganglion yang sampai saat ini belum jadi dioperasi.

Hampir seluruh badan kiri saya sering kebas/mati rasa dan ngilu. Sakiiiit sekali dan sudah bertahun-tahun. Ke dokter hasilnya cuma dapat obat anti nyeri yang harganya wow. Dan gak ngefek.

Jadi itu sebagian cerita yang saya ingat mengenai hipermobilitas sindrom ini. Guru yoga saya yang berbaik hati & aware dengan kondisi saya dengan tegas mengingatkan. 
"Jaga badan kamu. Kamu harus lebih hati-hati terutama pada saat latihan. Karena sendi kamu nggak punya rem kaya yang lain. Tipikal badan kaya kamu memang bisa lebih cepat dapat pose tapi justru ketika cedera, bisa-bisa lebih parah dari orang lain." 
Posting ini pun untuk mengingatkan teman-teman yang overly flexible. Sayangi badannya ya.


Senin, 18 September 2017

Makan Murah & Puas di Shawaregna



Sebagai orang suku Sunda, begitu mendengar "Shawaregna" ini pasti merasa tidak asing. Ya karena memang Shawaregna ini diambil dari bahasa Sunda sawaregna alias sekenyangnya. Jadi resto Shawaregna ini adalah resto all you can eat di Bandung yang menyajikan konsep makanan khas Indonesia. Ketika resto all you can eat lainnya menyajikan makanan Jepang, grill atau suki-sukian, Shawaregna ini menjadi terlihat mencolok. Karena sepaham saya jarang sekali resto all you can eat dengan menyajikan makanan lokal.

Makanan yang ada disana lumayan beragam, setidaknya ada 10menu. Ya, dibandingkan resto lain mungkin masih tergolong sedikit ya pilihan menunya, tapi helllooooooo wajar banget, harganya murce, anak kuliah juga bisa makan dimari. Cukup dengan membayar Rp 41.400 sudah termasuk pajak kamu udah bisa memborong semua makan disini, apalagi kalau sudah last hour jam 10 malam cuman Rp21.000 aja kalau gak salah. Buat yang bawa anak kecil bayarnya kisaran Rp 29.000 saja.
beberapa menu

Disana menunya ada bakso malang, bakso tahu, bubur ayam, mie ayam, mie kocok, gorengan, nasi goreng seafood, cuankie, batagor, nasi putih. Tapi jangan salah, kalau makanan yang kalian ambil gak habis, kalian kena denda sebesar Rp 15.000/item. Jadi tips dari saya yang akhirnya ngabisin 7 piring sendirian ini (maluuuuu >/////////<;), ambil makanan pake piring kecil-kecil biar ambilnya dikit2 dan nyicil gitu.. Jadi kalian bisa ambil makanan lebih bervariasi, icipin tuh semua makanannya sepuasnya asal gak sisa. Tapi ya jangan makan sama tulang-tulangnya ditelen juga sih. Hehe..

Soal minuman, disana harus beli lagi diluar harga makanan. Menunya standar ada air mineral, teh, dsb. Tapi saran saya sih mendingan bekel minum sendiri dari rumah, udah gratis, puas lagi. Maklum, saya ogah rugi. Hihi..


saya habis 7 piring, adik saya 3 (pdahal adik saya cowok)
Bicara restoran otomatis gak jauh dari kualitas makanannya kan? Disana tuh emang murah tapi kualitas makanan cukup terjaga kok. Rasa bakso malangnya maknyussss, kuahnya segerrr.. Mie ayamnya yang aku suka sih cekernya. Cekernya tuh buat behel user seperti saya masih sangat ramah di kawat gigi. Moletek kata orang Sunda mah. Dagingnya gampang banget kepisah sama tulang, jadi gak alot, gak pake susah payah. Nasi gorengnya sebenernya lumayan, udangnya guede-guede, tapi entah kenapa saya gak begitu doyan tapi wajib dicoba lah ya.. Terus ada cuanki, kebetulan pas bagian saya kuahnya udah surut dan jadinya asiiiiinnn, jadi saya makan baksonya aja, dan waktu itu ada aroma rada gosong, lagi kurang beruntung aja kali ya.. Batagornya sih menurut saya standar. Mie kocoknya cuma ambil kikilnya soalnya udah begah bingiiiits. Buburnya lumayan enak, kebetulan saya doyan bubur. Gorengannya kata adik saya enak, saya nggak ambil udah keburu full banget. Btw, ada stall khusus perkerupukan, ada kerupuk biasa, emping, pangsit goreng, bebas ambil. Ohya, bakso tahunya recomended, wajib coba banget deh itu.

Kalau lagi sepi disana nggak dibatasi jam makannya, tapi kalau pas lagi ramai apalagi weekend dibatasi jadi 1 jam ya.. Kalau pengen puas datang pas hari kerja, jam kerja. Hihi.. Dijamin sepiiiii.. Saya kesana hari Selasa sore, asalnya sepi, makin malam makin rame pada rombongan-rombongan gitu.. Memang seru sih ya makan all you can eat gitu rame-rame.

Nah, gimana guys? Tertarik makan disini? Kalau tertarik bisa loh datang ke restonya. Tapi tempat parkirnya kecil, kalau bawa mobil rada susah empek-empekan sama yang lain, jadi kadang parkirnya di lokasi samping-sampingnya. 
Lokasinya di Jl Sindang Sirna no. 21 bandung, daerah Sukasari atas. Sampingan dengan Waroeng Steak.
Buka dari jam 10:00-23:00



Minggu, 17 September 2017

Dos & Don'ts Behelan

Halo, apa kabarnya?
Kali ini saya mau berbagi pengetahuan dasar untuk para behel user, alias untuk kalian yang giginya berkawat, alias pasien orthodonti. Apa saja sih kewajiban dan pantangan yang harus diingat oleh para behel user ini? Yuk cek di bawah.

sumber: huntervalleyorthodontics.com.au


Dos

  • Rajin bersihkan gigi secara menyeluruh menggunakan alat yang sesuai.
  • Rutin kontrol.
  • Selalu bersihkan mulut setelah makan (minimal kumur).
  • Sikat gigi dengan lembut.
  • Makan makanan yang lembut & tidak keras.


Don'ts

  • Telat kontrol sampai berbulan-bulan, bahkan tidak sama sekali. Hal ini mengakibatkan struktur gigi bisa-bisa lebih rusak daripada mereka yang hidup tanpa kawat gigi.
  • Menyikat gigi terlalu keras. Nantinya bracket bisa lepas.
  • Jarang membersihkan gigi, bahkan tidak membersihkan secara menyeluruh. Menyebabkan menumpuknya sisa makanan dan akan berujung pada pembentukan karang gigi.
  • Konsumsi makanan keras, alot dan sulit digigit seperti apel tanpa dipotong kecil, ceker ayam, daging sapi yang alot.
  • Makan permen karet. Tekstur permen karet yang cenderung bisa melar dan berubah bentuk bisa terbelit menempel rekat ke bracket/kawat yang menjadikannya sulit untuk dibersihkan.
  • Ganti-ganti dokter. Selain biaya yang tambah besar, perawatan jadi semakin lama, kecuali memang dokter sebelumnya diindikasi tidak kompeten, atau sangat terpaksa karena faktor pindah domisili. Maka dari itu usahakan dari awal pilih dokter ortho yang terpercaya, jangan ke dokter gigi umum, apalagi tekniker abal-abal pinggir jalan.
Nah, bagaimana setelah mengetahui kewajiban dan pantangannya? Sudah dijalani atau masih suka ada yang terlewat? Semoga tulisan ini membantu ya.

Salaaam..

Senin, 24 Juli 2017

Yoga Swing di Papallona Bandung

Hai, ada yang tahu tentang yoga swing? Yoga swing ini dikenal juga dengan nama Aerial Yoga, Anti gravity Yoga, atau Yoga Trapeze. Bedanya sama yoga yang pake matras tentu saja alat yang digunakan dan gerakan-gerakannya. Pada dasarnya yoga swing ini adalah pengembangan dari yoga asana.
Kalau di yoga asana kita biasanya "melantai", di yoga swing ini kita pakai alat bantu hammock. Konsentrasi yoga swing yang saya rasakan sekali perbedaannya dengan yoga asana itu kalau secara gerakan, yoga swing banyak berkonsentrasi pada kekuatan tangan, spline (tulang belakang), serta gerakan-gerakan inversi. Dan dengan adanya si hammock ini kamu bisa memaksimalkan kemampuan badan kamu untuk meraih kelenturan yang lebih dalam.


ilustrasi. Anandair.com

Dari gerakan-gerakannya ini yoga swing akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang punya kelainan struktur tulang belakang (biar bisa normal lagi posisinya), orang yang sering sakit pinggang dan pundak, dan tentu masih banyak lagi manfaat lainnya.

Di Bandung, salahsatu studio yang punya program yoga swing ini yaitu Papallona Yoga Studio yang berlokasi di Tamansari no. 48. Lokasinya belakang samping Sawung Galing. Tapi pas bagian 1 arah dari arah Unisba ke Baltos. Agak nanggung lokasinya kalau bawa kendaraan harus muter dulu. Terlepas dari itu, lokasinya sangat mudah untuk ditemukan kok.

Di lantai 1 tersedia resepsionis, ada klinik kecantikan juga baru, ada ruang tunggu juga. Studio latihannya ada di lantai 2. Ruangannya tidak terlalu luas, tapi cukuplah. Ruangannya juga dilengkapi cermin-cermin besar yang membantu kita memaksimalkan pose.


dok pribadi

Fasilitas lain selain yang tadi disebutkan tersedia juga ruang untuk mandi dan ganti. Sayangnya hanya ada 2 ruang dengan pintu tirai, dan tidak dipisah laki-laki maupun perempuan. Ada juga loker dengan kunci, handuk yang bisa kita pakai dan air minum. Mau minum segalon-galonnya juga gratis.

dok pribadi

Proses latihannya fun tapi serius. Pelatihnya akan selalu memandu, ngecek dan mengingatkan kita apabila pose kita belum maksimal. Diawali dari pasang hammock, pemanasan, latihannya, sampai relaksasi berasa kepompong diayun-ayun. Kalau nggak inget ini latihan, mungkin saya udah molor.
Begitu selesai latihan, kerasa banget area tulang belakang dan tangan ketarik dan lemes, tapi bukan berarti ini negatif ya, ini tanda badan kita terolah.
Segini dulu cerita kali ini.

Yang penasaran ikutan, bisa kontak disini:

Phone: 02284469242 
WA: 0811-2229-758
Official Line : @papallonastudio
Instagram: @papallonayogastudio

Senin, 17 Juli 2017

Pengalaman Seru Shooting Film Dokumenter

Mungkin ada beberapa kawan yang bertanya-tanya, proses shooting sebuah film itu gimana ya? Nah, kebetulan beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk terlibat dalam proses pembuatan film, tapi film dokumenter. Yaaaaah, walaupun bukan sebuah proyek profesional tapi jelas ini adalah kesempatan belajar yang luar biasa. Saya bertugas sebagai seorang fixer yang membantu teman-teman dari Singapore Polytechnic. Mereka mendapat tugas proyek film dokumenter yang merupakan salahsatu mata kuliah dari jurusan Creative Writing fot TV and New Media (DTVM). Tahun ini lokasi shooting adalah area Lembang, Bandung. Kebetulan saya tinggal di Bandung dan dianggap bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, dan tentunya kemampuan saya berbahasa Sunda menjadi pertimbangan Politeknik Seni Yogyakarta tempat saya dulu kuliah untuk melibatkan saya dalam proyek ini. Terima kasih banyak untuk kedua perguruan tinggi. :D

Menangkap Matahari. :D
Dok pribadi

Next..
Kegiatan berlangsung dari tanggal 4-8 Juli 2017. Namun sebagai fixer, saya beserta 6 rekan lain sudah mulai survey lokasi dari tanggal 3. Kami terbagi menjadi 2 kelompok survey. 1 di Cibodas, 1 di Pasar Panorama. Kebetulan saya survey di area Pasar Panorama. Dan waaaaaaaaaaaaaah, sampai lokasi saya cuma melongo. Syok melihat kondisi pasar yang semrawut dengan gunungan sampah di pinggir jalan utama. Kondisi jongko yang tidak tertata dengan baik dilengkapi beceknya tanah/kayu yang menjadi lantai darurat semakin membuat saya terheran-heran. Aroma sayur mayur, daging dan sampah bersatu menjadi aroma yang tidak akan mudah dilupakan. Seumur-umur masuk ke pasar tradisional, rasanya ini pasar yang paling nempel di otak saya. Batin saya rasanya bingung, apa pantas saya ajak "touring" anak-anak Singapura itu kesini? Miris, tapi apadaya ini tugas saya.

Kelompok saya memiliki beberapa rincian yang perlu saya bantu cari data singkatnya agar memudahkan mereka ketika tiba di keesokan harinya. Beberapa tema awal yang dipilih adalah mengenai sampah. Otomatis saya hunting data sampah ini ke pedagang sekitar, dan tentunya mencari calon narasumber. Dan yah, memang tidak mudah hidup di negeri ini. Urusan sampah saja melipir ke arah duit dan politik. Singkat kata kami kesulitan untuk melanjutkan tema tersebut. Secara tidak sengaja kami bertemu dengan wartawan lepas yang sudah beberapa kali menulis artikel tentang Pasar Panorama ini, dan beliau menyarankan kami sebagai mahasiswa sebaiknya menghindari topik-topik yang aromanya aneh karena beliau bilang bisa berbahaya untuk keselamatan kami. Selain masalah sampah, ternyata topik bangunan dan kebakaran pun memiliki aroma yang tidak jauh baunya.
tampak depan Pasar Panorama. Dok pribadi

Ketika bingung harus cari bahan apalagi, saya teringat tentang sosok-sosok unik yang hidup di pasar. Seperti pedagang termuda atau tertua. Saya melanjutkan kembali menelusuri pasar, dan rasanya saya gembira bisa menemukan pedagang kecil yang sedang menjaga jongko sendirian. Namanya Anggara Dewanata. Cakep banget namanya. Saya berbincang, ternyata si adik sedang mengisi liburannya dengan berjualan kue di pasar. Tanya beberapa hal, lalu adik pemalu ini akhirnya menyetujui untuk dijadikan calon narasumber. Lega rasanya hati saya. Namun saya tidak boleh puas disini, saya mendengar desas-desus tentang pedagang jengkol berusia 110 tahun yang masih hebat, sehat dan kuat berjualan. Saya cari, puji syukur akhirnya ketemu walalupun harus nunggu, nyari kesana-kemari. Beliau bernama Abah Ukri. Bah Ukri ini sudah berjualan sebelum Pasar Panorama berdiri, beliau pindahan dari pasar lama. Beliau bercerita tentang banyak hal termasuk hal-hal bau yang terjadi di pasar ini. Hal-hal bau ini sudah menjadi rahasia umum ujarnya. Ah, sudahlah.. hal bau tidak akan saya ceritakan disini, yang penting Abah Ukri bersedia menjadi calon narasumber. Horeeeee..!

Hari selanjutnya hasil pencarian data saya bicarakan dengan Tim Singapura saya. Mereka terlihat antusias. Saya wanti-wanti jangan kaget dengan kondisi lapangan. Dan ya tetap saja mereka kaget. Hahaduhhhh..
bersama Abah Ukri. Penjual Petai 110 tahun.
Dok Zi Qi

Adik Dewa. Penjual kue termuda.
Dok Zi Qi

Tanggal 5 tim kami didampingi dengan seorang dosen mulai mengkaji ulang calon-calon narasumber dan kembali mencari kemungkinan-kemungkinan narasumber potensial lainnya. Mulai dari pengamen, pengemis, penjual ketan, sampai yang atur lalu lintas ikut diwawancara singkat. Malamnya tim inti (tanpa saya) mulai berkonsultasi dengan dosen mata kuliahnya tentang bahan apa saja yang sudah mereka dapat, dan cerita apa saja yang bisa dijadikan film dokumenter dara para calon narasumber ini. Akhirnya munculah keputusan untuk mewawancarai seorang penjual ketan bakar, karena dianggap memiliki cerita yang paling kuat diantara yang lainnya. Secepat kilat mereka membuat rumusan, timeline/jadwal kegiatan untuk esok hari. Apa saja yang harus segera direkam, materi wawancara, dll.
shooting di Jongko Ketan Bakar
Dok pribadi
Setup kamera di rumah Penjual Ketan Bakar.
Dok pribadi
Tanggal 6 & 7 kami melakukan shooting. Shooting kegiatan jual-beli di warung ketan bakar tersebut, mewawancarai jongko-jongko di sekitarnya. Kami juga shooting di rumah penjual ketan bakar tersebut, kegiatan sehari-hari di rumahnya mempersiapkan bahan dagangan, bercengkrama dengan keluarga, mewawancarai penjual tersebut beserta keluarga dan beberapa tetangganya. Tak lupa hunting view matahari terbenam yang menurut saya eksotis.

Pulang dari shooting yang padat dan melelahkan, malam harinya kami makan-makan di Kampung Daun dengan ceremony kecil merayakan selesainya kegiatan shooting kami di Lembang.

Tanggal 8 kami sarapan, kami bertukar kenang-kenangan. Ada hal lucu, anak-anak Singapura ini malah memberikan saya kue kancing produksi Indonesia. Saya membuatkan mereka gambar sederhana yang saya buat dadakan. Hahaha..
pemberian kenang-kenangan untuk tim Poipoi.
L-R Mr Aaron, Farah, Terisha, Zi Qi, saya, Amira, Kevin, Anna, Kirstin.
Gambaran saya pribadi btw. ;D
Dok pribadi

Secara general, kegiatan shooting itu melelahkan namun menyenangkan, seru!
Banyak hal lucu terjadi.
  • Kami disangka turis Hongkong yang masuk pasar.
  • Saya disangka orang Singapura yang jago bahasa Sunda.
  • Gosip di pasar itu kecepatannya melebihi kecapatan cahaya, tapi ya ngawur. Masa iya beredar rumor kami mau bawa penjual Ketan Bakarnya ke Singapura? Terus pedagang lain pada teriak-teriak minta diajak ke Singapura juga dan katanya mereka sirik. Ada-ada saja ya? Hihi..
  • Mendadak ada orang yang suka hilir-mudik di area shooting, kayanya kepo.
  • Ada juga yang malu-malu begitu sadar ada kamera.
  • Tak jarang ada yang heboh ngomong mau masuk tipi.
  • Yang tak kalah lucu ketika narasumber di shooting mendadak pakai baju-baju bagus, make up on. Oalah, kita kan shooting dokumenter Bu, bukan sinetron. :D Si Ibu jadi harus diingatkan, pakai baju sehari-hari saja tidak usah mendadak tampil gorjes. Hehe..


Selain hal lucu, kesulitan pun ya banyak.

  • Kami harus membawa berbagai peralatan rekaman ke medan yang tidak menentu, padahal kan berat-berat tuh.
  • Kondisi pasar yang ramai, dengan karakter orang-orang yang beragam membuat kita merekam harus penuh kesabaran.
  • Harus rajin-rajin kasih kode supaya orang-orang sekitar diam.
  • Kami sebagai kru harus pinter-pinter main petak-umpet. Gimana nggak, sekian banyak kru nggak ada yang boleh masuk kamera. :D
  • Membuat film dokumenter sangat berbeda dengan shooting sinetron dimana skrip sudah ada, aktor/aktris yang sudah terlatih, semua yang sudah terarah. Dalam pembuatan film dokumenter, apapun termasuk cerita bisa mendadak berubah setiap kali ada fakta lain terungkap. Kita juga tidak bisa merekayasa adegan, tidak ada teriakan "Shoot, action! Cut!". Semua momen bisa sangat tidak terprediksi, dan tim harus sigap dalam menangkap ragam momen yang terjadi ini. Misal tiba-tiba ada pembeli langganan yang datang membeli ketan dan bercengkrama dengan penjual ketan tersebut, tim harus sigap menangkap momen ini, terutama kameramen. Bisa jadi di saat semua lengah, si penjual ketan bakar tahu-tahu pergi membeli beras bahan ketan, kameramen harus siap ngejar. Tim harus pandai mengkondisikan narasumber agar tidak canggung menghadapi kamera, karena bisa saja narasumber mendadak gemetar, kebingungan, maupun mendadak terbata-bata bicara.


Yah, itulah pengalaman saya terlibat dalam pembuatan film dokumenter tugas kampus ini. Mudah-mudahan jadi manfaat untuk pembaca sekalian. Kalau yang punya pengalaman sejenis, boleh dong berbagi di kolom komentar.
dok. Singapore Polytechnic


+++Special thanks+++
Poiheads!
Politeknik Seni Yogyakarta
Singapore Polytechnic

Salam..

Kamis, 16 Februari 2017

Rasanya Pakai Bitesplint (TMJ Diary)

Seperti yang dibahas dipost sebelumnya, saya adalah seorang pasien TMJ (Temporomandibular Joint). Dalam kesempatan kali ini saya akan membahas perasaan saya (eaaa baper!) selama menggunakan bite splint.


http://www.newwestlab.com/services/bite-splints.aspx
bite splint biasa
fit rahang atas


http://www.edwardbyrne.com/hardsplint.htm
bite splint dengan hook
(lebih mahal makkk)
fit rahang bawah

Apa itu bitesplint? Bitesplint adalah alat yang dimasukan ke dalam mulut, fungsinya menopang agar posisi sendi rahang stabil. Pada awal pemakaian bitesplint ini harus dipakai terus menerus kecuali pada saat makan baru dilepas. Nah kalau tinggi bitesplint dirasa sudah cukup, maka harus dipakai saat makan juga.
 Loh, emang tingginya bisa berubah? Bisa! Jadi si bitesplint ini harus secara rutin "dipangkas" ke dokter prosthodonti yang masangnya.

Pada saat awal pakai bitesplint ini saya merasakan sakit yang super sekali. Rasanya otot-otot daerah kepala, leher, pundak menjadi kencang. Sakit dan pusing sampai saya diresepkan obat pereda rasa sakit oleh dokter prostho saya. Untuk membantu meringankan sakit, selain meminum obat saya juga diharuskan untuk rajin kompres area sendi rahang pakai air hangat sambil dipijet-pijet. Cara pijetnyapun ada instruksi khusus dari dokter.

ini bite splint saya yang sudah dipotong


Selain rasa sakit dan pusing itu, saya juga jadi kesulitan mengontrol pose mulut saat tidur. Hihi.. Posenya semacam automatic open dan ngiler sangat banyak. Produksi ludah alias saliva saya jadi super heboh. Ngomongpun susah banget. Mendadak cedal. Gak jelas didenger pokoknya, dan susah ngomong dengan cepat. Namun lambat laun (mungkin 2-4 pekan) sudah mulai terbiasa. Rasa sakit dan ngomong aneh berkurang. Tapi hingga saat ini produksi ludah masih lumayan banyak dibanding sebelum pakai bite splint. Wajarlah ya, ada "makhluk asing" menginvasi di mulut. Haha..

Setiap habis dilakukan pengurangan tinggi bitesplint saya selalu merasa lidah seperti meraba hal yang tajam. Agak sakit gitu.. Apalagi pas saya sudah mulai pasang ulang ortho, bitesplintnya kan harus dipotong di beberapa bagian gigi, nah itu juga di lidah akan terasa tajam. Ngomong jadi terdengar ngaco lagi. Gak enak pokoknya. Asing gitu rasanya. Tapi setelah lewat +- 3pekan bekas potongannya terasa lebih ramah di lidah. Ngomong juga kembali lebih jelas, tapi belum bisa jelas banget apalagi ngomong cepet.


Ada beberapa tips selama saya pakai bite splint, mudah-mudahan berguna bagi teman-teman pembaca:

  1. Rajin minum air putih biar ludah sering terbilas dan bitesplint tidak licin,
  2. Kalau terasa sakit kompres air hangat sambil dipijat,
  3. Bersihkan bitesplint tiap habis makan, minimal dibilas air, lebih bagus sambil digosok pakai pasta gigi sambil gosok gigi,
  4. Wajib kumur sesudah makan,
  5. Bite splint wajib disikat minimal 2x pagi dan malam,
  6. Nurut kata dokter.

Sekian tulisan kali ini, kalau pengalaman teman-teman pakai bite splint gimana? Tulis di komen ya. ;)