Label

Tampilkan postingan dengan label Foods. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Foods. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Desember 2017

Beda Milo Malaysia & Indonesia



Milo 3in1


Halo..
Bagi kalian penggemar minuman coklat tentu sudah tidak asing dengan Milo dong ya? Saya sendiri sebagai penggemar minuman coklat kenal minuman ini dari zaman bocah. Namun ada yang menggelitik perasaan saya. Kayanya rasa milo Malay lebih berasa coklatnya deh. Lalu beberapa teman juga bilang milo Indonesia dan Malaysia rasanya berbeda. Hal ini mendorong saya untuk membuktikannya dan membandingkan secara langsung.

Kebetulan saudara pulang dari Malaysia bawa Milo sachete 3in1, bukan yang original. Ya sudahlah, saya pun seduh dan melakukan perbandingan dengan Milo lokal 3in1 juga.

kiri Malaysia
kanan Indonesia


Bisa terlihat di foto, milo Malaysia dari segi warna lebih gelap. Bahkan setelah diberi air hasilnya pun tetap lebih gelap dari Milo Indonesia. Setelah saya seruput Milo Malaysia lebih berasa coklatnya, terasa lebih pahit dan saya doyan rasa pekat coklat yang seperti ini. Berbeda dengan Milo Indonesia, rasanya lebih ke creamy malah jadi kaya minuman susu dikasih sedikit coklat. Bukan minuman coklat yang dikasih susu. Tapi teman saya yang ikut icip-icip justru lebih suka Milo Indonesia yang creamy. Yah intinya memang soal suka-tidak suka sifatnya relatif ya..

Tapi tetap saja saya heran kok bisa beda banget gitu ya rasanya? Bahkan konon produkan Milo di setiap negara rasanya beda-beda loh. Saya jadi penasaran pengen icip lebih banyak lagi versi Milo yang ada di jagad raya ini. Hihi..

Ngomong-ngomong.. Ini komposisinya pun berbeda loh, bisa dilihat di foto ya..
Yang Indonesia itu dicampur dengan susu Dancow, yang Malay nggak..

KOMPOSISI
Ki: Malaysia
Ka: Indonesia


NILAI GIZI
Ki Malaysia
Ka Indonesia

tempat produksi
Kalau kamu sukanya minuman coklat Milo yang mana?




Selasa, 07 November 2017

Raja Hui Crispy, olahan ubi kekinian khas Sumedang

Sumedang, sebuah kota yang terkenal dengan tahunya yang berwarna coklat keemasan, garing luarnya dan lembut dalamnya. Tapi jangan salah, kalau mampir ke Sumedang jangan hanya icip tahunya saja. Raja Hui Crispy, olahan ubi Cilembu kekinian adalah salahsatu varian makanan khas yang wajib kamu cicipi, dan tentunya bisa banget dijadikan oleh-oleh loh.

Raja Hui crispy




Hui Crispy ini terbuat dari ubi Cilembu. Ituloh, ubi yang suka disebut ubi madu. Ubi yang manisnya kebangetan, apalagi kalau ubinya dioven biasanya mengeluarkan cairan lengket yang biasa disebut madu karena manis sekali. Ubi ini tumbuh subur di wilayah Cilembu, makanya disebut ubi Cilembu. Biasanya kan ubi ini di oven, lalu ada yang dibuat cake juga, namun hui crispy ini bisa dibilang cukup unik. Ubi yang sudah dioven (entah dikukus ya) digoreng dengan balutan tepung panir lalu diberi berbagai topping yang menarik.


Dari segi tekstur luarnya tuh garing kriuk-kriuk renyah. Isian ubinya manisnya pas dan lembuuuut. Untuk topping overall saya paling suka yang coklat, kebetulan pas beli huinya baru banget digoreng jadi si topping coklatnya masih meleleh-leleh gitu. Nyummmm~ cuman untuk rasa taro cheesenya kemarin agak terlalu manis buat saya. Bukan penggemar makanan manis banget sih. Tapi itu tergantung selera ya, soalnya adik saya doyan-doyan aja.

Terlalu semangat, inget foto pas udah ludes sebagian.

Toppingnya ada coklat, keju, kopi, oreo, almond greentea, taro cheese & strawberry marshmallow. Harganya sangat terjangkau, hanya dengan Rp 17,000 - Rp 30,000an kamu sudah bisa bawa pulang hui crispy aneka rasa. Dan saya sendiri sudah membuktikan, hui crispy ini awet berhari-hari tanpa masuk kulkas loh. Jadi aman lah ya buat yang bepergian jauh tidak perlu khawatir basi.

Gimana? Tertarik beli?
Datang saja langsung ke gerainya di:
Lapis Sumedang
Jl Jatinangor no. 38
Jl Pangeran Geusan Ulun no. 90 Sumedang
Jl. Cipacing no. 47 Rancaekek Sumedang




Kamis, 02 November 2017

China Town Bandung



Kemarin malam tuh rasanya jenuh banget, ingin cari suasana baru. Lalu saya teringat salahsatu tempat wisata baru di Bandung. Ini dia Pecinan Bandung, alias China Town Bandung. Disini nuansanya kental dengan suasana tempo dulu, jaman old gitu (biar ngomongnya kekinian). Tempatnya mudah dicari, tapi tempat parkirnya kayanya kalau pas ramai susah deh itu. Apalagi untuk wisatawan yang bawa mobil. Mereka belum menyediakan spot khusus untuk parkir. Jadi kemarin parkir di pinggir jalan saja.


Di gerbangnya aja kita akan disuguhi pemandangan berupa lampion dan mural yang ciamik. Banyak spot yang bagus untuk yang suka foto-foto. Selain tempat dengan dekorasi menarik, disana terdapat banyak barang-barang antik. Ahhh, saya rasanya balik ke masa kecil dimana barang-barang itu ada di rumah, terlihat di warung-warung.. Ada juga para penjual merchandise, baju, sewa kostum tradisional, tempat pijat & refleksi, dan tentunya makanan.

maafkan untuk kualitas gambar yang kurang bagus ini yak. :'(

Begitu masuk, disebelah kiri ada sebuah ruangan kecil. Ruangan ini adalah museum mini. Terdapat barang-barang antik dan juga tulisan sejarah yang terpampang besar di dinding. Sejarah awal mula bangsa Tionghoa bisa sampai Indonesia dan akhirnya menetap hingga sekarang ini. Ada juga daftar penjelasan makanan populer khas sana yang jadi jajanan favorit semacam bakpao, yamien, dll. Tidak lupa piagam peresmian lokasi oleh Bapak Walikota tercinta.

view museum

Banyak sekali penjual makanan disana, Saya sendiri saja bingung mau pilih yang mana. Mulai dari roti, eskrim, nasi-nasian, minuman, lokalan seperti lotek, ayam betutu, sampai tentu saja makanan khas negeri tirai bambu. Dan berhubung lagi disini, saya ingin cicip makanan khas Chinanya dong ya.. Biar berasa lebih greget gitu.. Akhirnya setelah pilih-pilih, saya memesan mie wonton, dan adik saya pesan semacam ricebowl gitu dengan isian ayam saus jeruk. Tapi begitu mau bayar eh si Aanya nolak. Bukan karena si Aa sombong, tapi disana ndak bisa transaksi pake uang cash. Bisanya pake debit BCA/mastercard/kartu flazz (bisa pakai kartu debit lain tapi mungkin kena charge tambahan ya..). Dan ada konter khusus yang jual kartu flazz ini bagi yang belum punya.

gak bisa pakai uang cash ya..
Ngomong-ngomong soal rasa makanan dan harga nih ya.. Untuk makanan kisaran harganya di Rp 30,000an ++, minuman di Rp 25,000-an++. Memang di tempat wisata tuh ya, harga-harga suka ehemmm agak lebih mahal. Tapi guyssss, wontonnya itu udang bangettttt!! Cuman untuk kuah dan rasa secara keseluruhan sih kurang bikin oe ngerasa ditonjok kenikmatan yang mendalam. 

Wonton sendiri adalah makanan khas dari Kanton, sedangkan misoa adalah mie yang berbahan dasar tepung terigu dan teksturnya sangat lembut, tidak kenyal sama sekali. Misoa ini berasal dari Fujian. Dan untuk ricebowlnya pakai nasi goreng gitu, rasa nasi gorengnya saya sih kurang cocok, kaya nasi yang sudah lama dalam rice cooker. Tapi ayamnya juara sih, juicy, tender dan dibumbui dengan baik. Untuk kemasan, disini semuanya pakai mangkok plastik khasnya, jadi bukan pakai piring/mangkok keramik gitu ya..

mie "misoa" Wonton khas Kanton
chicken orange sauce ricebowl


Nah, gimana manteman?? Penasaran untuk berkunjung kesini? Tinggal cek map saja ya.
Btw, selain dapat tiket masuk kalian akan dapat pin menarik juga loh!

CHINATOWN Bandung
Jl Kelenteng No. 41, Ciroyom, Andir, Kota Bandung, Jawa Barat.
jam operasi: 12:00 - 22:00
Harga Tiket:
Weekday: Rp 10,000
Weekend/ hari libur: Rp 20,000
















Senin, 18 September 2017

Makan Murah & Puas di Shawaregna



Sebagai orang suku Sunda, begitu mendengar "Shawaregna" ini pasti merasa tidak asing. Ya karena memang Shawaregna ini diambil dari bahasa Sunda sawaregna alias sekenyangnya. Jadi resto Shawaregna ini adalah resto all you can eat di Bandung yang menyajikan konsep makanan khas Indonesia. Ketika resto all you can eat lainnya menyajikan makanan Jepang, grill atau suki-sukian, Shawaregna ini menjadi terlihat mencolok. Karena sepaham saya jarang sekali resto all you can eat dengan menyajikan makanan lokal.

Makanan yang ada disana lumayan beragam, setidaknya ada 10menu. Ya, dibandingkan resto lain mungkin masih tergolong sedikit ya pilihan menunya, tapi helllooooooo wajar banget, harganya murce, anak kuliah juga bisa makan dimari. Cukup dengan membayar Rp 41.400 sudah termasuk pajak kamu udah bisa memborong semua makan disini, apalagi kalau sudah last hour jam 10 malam cuman Rp21.000 aja kalau gak salah. Buat yang bawa anak kecil bayarnya kisaran Rp 29.000 saja.
beberapa menu

Disana menunya ada bakso malang, bakso tahu, bubur ayam, mie ayam, mie kocok, gorengan, nasi goreng seafood, cuankie, batagor, nasi putih. Tapi jangan salah, kalau makanan yang kalian ambil gak habis, kalian kena denda sebesar Rp 15.000/item. Jadi tips dari saya yang akhirnya ngabisin 7 piring sendirian ini (maluuuuu >/////////<;), ambil makanan pake piring kecil-kecil biar ambilnya dikit2 dan nyicil gitu.. Jadi kalian bisa ambil makanan lebih bervariasi, icipin tuh semua makanannya sepuasnya asal gak sisa. Tapi ya jangan makan sama tulang-tulangnya ditelen juga sih. Hehe..

Soal minuman, disana harus beli lagi diluar harga makanan. Menunya standar ada air mineral, teh, dsb. Tapi saran saya sih mendingan bekel minum sendiri dari rumah, udah gratis, puas lagi. Maklum, saya ogah rugi. Hihi..


saya habis 7 piring, adik saya 3 (pdahal adik saya cowok)
Bicara restoran otomatis gak jauh dari kualitas makanannya kan? Disana tuh emang murah tapi kualitas makanan cukup terjaga kok. Rasa bakso malangnya maknyussss, kuahnya segerrr.. Mie ayamnya yang aku suka sih cekernya. Cekernya tuh buat behel user seperti saya masih sangat ramah di kawat gigi. Moletek kata orang Sunda mah. Dagingnya gampang banget kepisah sama tulang, jadi gak alot, gak pake susah payah. Nasi gorengnya sebenernya lumayan, udangnya guede-guede, tapi entah kenapa saya gak begitu doyan tapi wajib dicoba lah ya.. Terus ada cuanki, kebetulan pas bagian saya kuahnya udah surut dan jadinya asiiiiinnn, jadi saya makan baksonya aja, dan waktu itu ada aroma rada gosong, lagi kurang beruntung aja kali ya.. Batagornya sih menurut saya standar. Mie kocoknya cuma ambil kikilnya soalnya udah begah bingiiiits. Buburnya lumayan enak, kebetulan saya doyan bubur. Gorengannya kata adik saya enak, saya nggak ambil udah keburu full banget. Btw, ada stall khusus perkerupukan, ada kerupuk biasa, emping, pangsit goreng, bebas ambil. Ohya, bakso tahunya recomended, wajib coba banget deh itu.

Kalau lagi sepi disana nggak dibatasi jam makannya, tapi kalau pas lagi ramai apalagi weekend dibatasi jadi 1 jam ya.. Kalau pengen puas datang pas hari kerja, jam kerja. Hihi.. Dijamin sepiiiii.. Saya kesana hari Selasa sore, asalnya sepi, makin malam makin rame pada rombongan-rombongan gitu.. Memang seru sih ya makan all you can eat gitu rame-rame.

Nah, gimana guys? Tertarik makan disini? Kalau tertarik bisa loh datang ke restonya. Tapi tempat parkirnya kecil, kalau bawa mobil rada susah empek-empekan sama yang lain, jadi kadang parkirnya di lokasi samping-sampingnya. 
Lokasinya di Jl Sindang Sirna no. 21 bandung, daerah Sukasari atas. Sampingan dengan Waroeng Steak.
Buka dari jam 10:00-23:00



Rabu, 15 Februari 2017

Bakmi Jowo DU Sang Pelipur Rindu

Hari itu hujan turun bergemericik. Tidak deras, namun rapat. Pas hujan seperti itu saya suka baper. Rasanya butuh kehangatan. Kehangatan kuah bakmi godhok dengan irisan rawit sepertinya enak.. Zaman tinggal di Jogja makanan ini sangat mudah dijumpai, bahkan harganyapun sangat murah. Sesuai dengan dompet mahasiswa. Tak kuasa menahan rindu, kuterobos hujan menuju jl. Dipati Ukur Bandung. Tepatnya pas pertigaan daerah seberang ITHB.




Sampai sana suasana masih sepi, dulu saat pertama kesana pengunjungnya ramai sekali. Tempatnya juga jadi lebih nyaman. Tak sabar, saya langsung saja pesan bakmi godhok yang sangat dirindukan itu, tak lupa didampingi dengan wedang uwuh biar puollll. Senang rasanya, walaupun harus merogoh kocek lebih dibanding waktu di Jogja dulu. Disini bakminya dihargai Rp 25k, kalau beli di Jogjanya harga segitu udah paket lengkap buangetttttt pake topping dan sate yang beragam. Kalau disini harga segitu itu masih basic ya.. Harga wedang uwuh juga di kisaran Rp 10k, di Jogja dulu Rp 4k - 6k udah dapet. Hehehehe..

Kurang lebih seperempat jam menunggu, wedang dan bakmi disajikan di meja saya. Wah, harumnya semerbak! Asap sedap mengepul, menantang saya untuk segera melahapnya sampai habis.



Ahhh.. Lezat! Ini rasa yang kurindu itu. Namun ada yang kurang joss disana. Biasanya saya makan bakmi di pinggiran jalan sambil nunggu sambil lihat bapak penjualnya atraksi dengan lincah mengolah masakan diatas bara api, tak lupa para ayam-ayam seksi menggoda ikut dipajang di area kaca gerobak. Tapi disini tidak ada hal demikian, sayanggggg banget. Padahal itukan khasnya bakmi jowo. Hehe.. 
Yasudahlah, iringan lagu klasik jawa dengan interior serba kayu saya anggap cukup saja.

Perut kenyang, hati gembira.
Saya pun pulang dengan ceria. 
😁